17 Cara Membantu Anak Autis

Punya anak yang di diagnosis terkena autis? Jangan bersedih Bunda, masih banyak sisi positif yang bisa diperoleh dari hal ini. Yang terpenting lagi adalah bagaimana menyiapkan kesiapan mental ibu untuk memberikan hal yang terbaik bagi buah hati.

Berikut 17 cara bagaimana kita bisa membantu anak autis

1. Dapatkan diagnosa dini, lebih cepat lebih baik adalah perumpaan yang tepat untuk kasus autisme. Jika bunda berfikir bahwa putra/putri berada pada spektrum autisme maka segeralah pergi ke profesional untuk mendapatkan diagnosis.

2. Tetap berfikir positif, walau hal ini dirasa cukup sulit akan tetapi anak dalam kondisi bagaimanapun akan dapat merasakan depresi yang dialami oleh orang tuanya. Anda gak mau kan hal ini terjadi?

3. Pastikan buah hati mendapatkan terapi yang terbaik untuk membantunya berkembang. Carilah di internet atau bertanyalah pada komunitas autisme dimana Anda bisa memberikan terapi yang terbaik bagi anak autis. Fokuslah pada apa yang diperlukan buah hati saat ini.

4. Ajarkan pada anak untuk berani melakukan apa saja yang dia ingin lakukan. Fokus bahwa dia bisa melakukannya jangan pada tidak bisa, setiap anak memiliki talenta alami masing-masing.

5. Sebagai ibu jadilah yang terbaik baginya, jika memungkinkan jadilah ibu rumah tangga namun tetap menghasilkan. Dengan tinggal di rumah Anda bisa memberikan apa yang dibutuhkan untuk perkembangan anak.

17 Cara Membantu Anak Autis6. Jangan perlakukan anak Anda seolah-olah anak Anda berbeda atau bahkan memiliki kebutuhan khusus, perlakukan dia seperti anak normal lainnya.

7. Hindari untuk menggunakan obat-obatan. Ada banyak suplemen alami dan vitamin yang bisa didapatkan dari makanan jadi sebisa mungkin jangan gunakan obat.

8. Belajar sebanyak mungkin mengenai autisme dari buku, internet, atau komunitas.

9. Berikan diet yang sesuai dengan kebutuhannya, anak autis biasanya memiliki alergi terhadap protein tertentu.

10. Siap sedia membantunya. Walaupun anak Anda terlihat tidak mau melakukan apa saja, cobalah untuk berinteraksi dengannya dan membantunya untuk belajar.

11. Beri pengertian pada saudara yang lain apa yang terjadi pada adiknya yang menderita autisme dengan begini akan terjalin toleransi dan mereka akan menerima apa adanya saudara mereka.

12. Berikan waktu bagi anak Anda untuk berdua dengan Anda

13. Lakukan apa saja yang bisa dilaukan untuk buah hati dan tetaplah terhubung dengan dia.

14. Pilihlah instansi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

15. Carilah komunitas orang tua yang memiliki masalah yang sama dengan Anda agar kita dapat belajar lebih banyak dari orang yang sudah berpengalaman.

16. Carilah anak lain dengan kondisi yang sama sehingga anak memiliki teman untuk bersosialisasi.

17. Ajak anak untuk dilakukan diagnosis autisme seiring mereka tumbuh dewasa biasanya hasil test adakalanya berubah.

Pengunjung Datang Dengan Kata Kunci :

cara membantu orang autis,membantu anak autis,Membantu anak auti

5 Alasan Kenapa Anak Autis Lebih Cocok Homeschooling

Memilih pendidikan untuk anak dengan autis memang susah-susah gampang. Selain kita perlu jeli untuk meriset instansi maka yang memang menyediakan kebutuhan khusus untuk anak autis kita pun perlu menilik tenaga pengajarnya juga.

Tak sedikit orang tua dengan kasus autisme pada anak mereka lebih memilih untuk menyekolahkan buah hati mereka dengan sistem home schooling. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Tentunya diperlukan dedikasi, rencana, dan observasi yang kuat. Tapi hal ini tak sesulit yang dibayangkan kok.

Berikut 5 alasan kenapa homeschooling lebih cocok untuk anak dengan autisme

1. Pertemuan satu lawan satu menjadikan pembelajaran menjadi optimal

Homeschooling menyediakan satu guru untuk satu murid dengan demikian perhatian pengajar terfokus hanya pada anak didik. Metode belajar secara privat ini akan membuat guru bisa lebih mengeksplorasi potensial belajar si anak.

Anak Anda akan mendengar instruksi secara individu sekaligus mendapatkan feedback secara langsung, guru pun bisa menyusun pelajaran sesuai gaya belajar anak. Buah hati dengan autis pun bisa belajar kesehariannya untuk meningkatkan kemampuan diri mereka.

2. Lingkungan tempat belajar bisa diadaptasi sesuai kebutuhan sensor si anak

Belajar di rumah melalui homeschooling akan lebih mudah untuk mengontrol lingkungan tempat belajar si anak. Tempat belajar si anak bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak misalnya ruang yang tenang, pencahayaan, adanya latar belakang musik dan lainnya.

3. Homeschooling biasanya memiliki jadwal yang fleksibel

Jadwal untuk homesschooling bisa diatur waktunya kapan waktu si anak memiliki saat yang tepat untuk belajar apakah pagi, siang, atau malam. Kita pun bisa memecah pembelajaran dengan waktu istirahat sesuai dengan kebutuhan. Homeschooling umumnya tidak membebani siswa dengan begitu banyak PR, disebabkan perhatian dan fokus guru sudah tertuju pada murid sehingga guru bisa memaksimalkan proses belajar.

4. Anak autis bisa mendapatkan bentuk sosialisasi yang positif

5 Alasan Kenapa Anak Autis Lebih Cocok HomeschoolingTidak semua proses sosialisasi diperlukan oleh anak autis. Disekolah biasa proses sosialisasi ini bisa berdampak baik dan buruk bagi anak. Namun karena anak belajar dirumah maka orang tua bisa menentukan proses sosialisasi yang memang cocok buat buah hati.

5. Apa yang diajarkan pada anak bisa disesuaikan dengan ketertarikan anak

Homeschooling seperti halnya proses belajar secara privat lainnya guru akan lebih banyak mengetahui kebutuhan siswa. Jadi dengan demikian apa saja yang menjadi ketertarikan anak autisme bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran, anak pun tidak menjadi cepat bosan.

Banyak orang tua yang mendapatkan benefit adanya homeschooling buat anak autis mereka. Selain lebih menghemat waktu, anak mendapat perhatian lebih, sosialisasi yang konstruksif, serta kita tidak dipusingkan dengan selalu memberitahu guru disetiap awal pelajaran bahwa anak Anda membutuhkan perhatian khusus.

Dengan adanya homeschooling buat anak autis maka diharapkan anak dengan autis bisa mengembangkan potensial terbaiknya guna menghadapi masa depan yang lebih cerah.

Anak Didiagnosis Autis? Berikut 4 Tahapan Yang Akan Dilalui

Ketika mendengar anak di nyatakan mengalami autis, maka kemungkinan besar yang ada dalam benak pikiran setiap orang tua adalah hal yang buruk. Sebagai ortu bisa jadi merasa takut, sedih, dan menderita.

Semua perasaan tadi adalah hal yang wajar muncul ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang relatif baru, namun demikian kita tidak perlu sepenuhnya merasa begitu kebingungan. Diluar sana banyak komunitas atau organisasi yang siap membantu permasalahan seperti ini.

Selama proses merespon vonis buah hati yang autis, orang tua akan mengalami berbagai macam perasaan. Berikut empat tahapan yang akan dilalui saat pertama kali mendengar anak menderita autis.

Tahap 1 – Penolakan

Penolakan adalah bentuk langsung begitu mendengar dokter mengatakan bahwa putra-putri Anda adalah anak autis. Anda pun berupaya menarik diri bahwa kemungkinan besar dokter membuat analisis yang salah. Tak ada salahnya untuk mencari ‘second opinion’, dan jika hal ini tetap menghasilkan hal yang sama maka saatnya Anda melewati hal ini. Penolakan yang terus menerus tidak akan membantu Anda sekaigus buah hati yang saat ini lebih membutuhkan perhatian. Semakin cepat orang tua menerima diagnosis ini maka semakin cepat tercapai bisa diberikan.

Tahap 2 – Marah

Marah adalah pengeluaran emosi yang alami. Bentuk kemarahan ini bisa jadi terhadap diri sendiri, apa yang salah terhadap diri sehingga mengalami hal ini. marah pada Tuhan, kenapa Tuhan memberikan ujian ini. Atau marah pada orang tua lain yang memiliki anak yang sehat? Kunci untuk melewati tahap ini adalah berbicara dengan orang lain, berbagai perasaanlah dengan orang yang Anda anggap nyaman, bisa saja dokter atau sahabat atau suami.

Tahap 3 – Duka lara

Berduka adalah bentuk respon emosi terhadap berita yang sangat buruk. Pastinya jangan sampai hal ini berlarut-larut disebabkan kemungkinan besar Anda secara tidak langsung akan menularkan perasaan ini pada buah hati. Carilah konselor jika Anda tidak bisa menaggulangi hal ini.

Tahap 4 – Menerima

Menerima dengan sepenuhnya bahwa anak Anda terkena autisme memang membutuhkan waktu namun perasaan ini adalah tahap terakhir dimana nantinya kita bisa bergerak maju. Pada periode ini Anda akan tampak menjalani hidup yang sewajarnya dengan buah hati yang terkena autisme. Begitu hal ini maka kebahagian baik Anda dan anak akan segera tercapai.

Anak Didiagnosis Autis? Berikut 4 Tahapan Yang Akan DilaluiKasus autisme pada anak bisa jadi akan susah untuk di kelola terutama jika kasusnya tergolong berat. Banyak organisasi yang menawarkan bantuan mengenai hal ini, sehingga Anda tidak perlu merasa terbebani karena mengganggap Anda menghadapi seorang diri.

Jika sebagai orang tua Anda menghadapi tiga tahapan pertama diatas terlalu lama maka disarankan untuk mencari bantuan psikolog. Satu-satunya cara agar Anda dapat melanjutkan hidup demi kebaikan anak adalah menerima semua hal yang terjadi pada anak Anda.

Bagaimana Terapi Autisme Pada Anak Dilakukan

Saat orang tua mengetahui bahwa salah satu buah hatinya menderita autisme maka berbagai jenis terapi pun mulai direncanakan. Ada banyak terapi untuk anak autis. Beberapa orang tua bahkan khawatir terapi yang menggunakan obat-obatan bisa berpengaruh buruk pada anak mereka.

Tapi ini bukanlah hal yang semestinya dikhawatirkan, disebabkan beberapa kasus autisme pada anak membutuhkan pengobatan akan tetapi pada kasus yang lainnya tidak perlu. Terdapat pula terapi alternatif tanpa penggunaan obat.

Berikut beberapa macam terapi yang biasa dipakai untuk penderita autis pada anak.

Terapi Pengobatan

Jenis obat yang dipakai untuk penderita autis sangat beraneka ragam. Obat inipun memiliki fungsi yang bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan. Terdapat obat yang dipakai untuk mengatasi rasa cemas yang sering diderita anak autisme. Obat jenis anipsychotic dipakai untuk anak autis yang memiliki masalah tingkah laku. Beberapa obat juga dipakai untuk anak autis yang kesulitan untuk tertidur. Obat-obatan ini tidak menyembuhkan autisme dan penggunaannya harus dengan pengawasan dokter.

Terapi Okupasi

terapi okupasi akan membantu anak autis untuk bisa hidup secara mandiri. Mereka akan belajar untuk bagaimana mengenakan baju, bagaimana mandi, cara makan setiap harinya. Anak autis akan dilatih syaraf motoriknya. Terapi ini juga mengajarkan anak untuk bisa menggunakan alat-alat sederhana, diajarkan apa yang berhaya baik yang ada dirumah atau di luar rumah.

Terapi fisik

Banyak anak autis yang membutuhkan terapi fisik. Terapi fisik dibutuhkan bagi anak autis yang memiliki otot lemah. Terapis yang menangani ini juga akan bekerja untuk merangsang otot motorik si anak. Bentuk terapi ini bisa berupa jalan, berdiri, dan berguling.

Terapi Tingkah Laku

Terapi tingkah laku akan berkonsentrasi untuk mengajarkan anak autis bagaimana mereka bisa berprilaku dengan baik. Terapi ini umumnya menggunakan sistem reward. Dengan belajar bagaimana berperilaku baik maka anak autis akan mendapatkan hadiah dan hadiah dihentikan jika mereka menunjukkan perilaku yang buruk.

Terapi Bicara

Anak autis umumnya bermasalah dengan cara berkomunikasi. Mereka sulit untuk mencerna perkataan verbal. Bahkan beberapa anak autis tidak pernah ngomong sama sekali. Jadi mereka harus diajarkan bagaiman untuk berkomunikasi dengan menggunakan terapi bicara.

Terapi-terapi diatas adalah beberapa contoh dari sekian banyak terapi yang bisa dipergunakan untuk anak autis. Anak autisme tidak membutuhkan semua terapi, sesuaikan jenis terapi dengan kebutuhan yang diperlukan oleh si anak. Hal yang terpenting untuk menemukan terapi yang tepat bagi anak autis adalah menemukan terapi yang membuat anak Anda bisa berkembang dengan baik.

Tipe Autisme Pada Anak

Autisme pada anak acapkali memberikan beban pada orang tua. Banyak ortu yang memang tidak mengharapkan memiliki anak autis. Namun walaupun demikian buah hati adalah anugrah dari Tuhan yang harus kita sayangi. Masih banyak hal positif yang bisa dikejar serta solusi pendidikan walaupun kita memiliki anak autis.

Autisme pada anak didefinisikan sebagai suatu gangguan yang di derita anak dimana perkembangan jiwa dan mentalnya tidak bisa maksimal. Autisme pada anak dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu:

Autis Pada Masa Kanak-kanak (Childhood Autism)

Tipe Autisme Pada AnakAutisme yang menyerang anak pada masa perkembangan si anak disebut sebagai autis masa kanak-kanak atu ‘Childhood Autism’. Childhood autism bisa dikenali sejak dini saat anak berusia sekitar tiga tahunan.

Berikut ciri-ciri autis masa kanak-kanak

– Anak mengalami gangguan saat berkomunikasi, hal ini dtiunjukkan dengan kemampuan bicara yang melambat. Bahasa yang digunakan oleh anak tidak bervariasi dan umumnya diulang-ulang. Selain itu anak tidak bisa diajak komunikasi dua arah.

– Anak tidak menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi sosial. Anak yang menderita autisme masa kanak-kanak sulit sekali memperlihatkan emosinya dan ekspresi hatinya. Kesulitan ini akhirnya berdampak pada kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya.

– Perilaku Childhood autism berbeda dengan anak normal. Umumnya mereka memiliki keterbatasan untuk tertarik dengan sesuatu. Sebagai contoh saat anak

diberikan mainan mobil-mobilan maka mereka akan memainkan dengan cara yang sama. Atau jika ada sesuatu yang tidak berkenan dengan hati maka mereka biasanya akan berteriak.

Sindrom Rett

Bisa dilihat saat usia anak enam bulan, adapun ciri yang ditunjukkan adalah,

  • ukuran kepala tidak seperti bayi normal umumnya
  • sering melakukan gerakan yang tidak terkontrol
  • anak sering menyendiri
  • sering mengalami gangguan pernafasan dan otot kaku
  • bisa jadi sering mengalami kejang

Sindrom Asperger

Autisme anak yang satu ini dicirikan dengan kemampuan bicara yang baik akan tetapi sayangnya amereka tidak mampu berkomunikasi dua arah dengan baik. Anak hanya bisa mengutarakan pendapatnya tapi tidak bisa memahami pembicaraan orang lain.

Gangguan pervasif YTT 

Jenis autis anak yang satu ini lebih ringan dimana anak masih bisa berkomunikasi dengan yang lain, menunjukkan ekspresi, dan melakukan tatap muka.

Disitergrasi masa kanak-kanak

Pada perkembangan hingga usia tiga tahun anak memiliki kemajuan seperti batita normal lainnya akan tetapi kemudian buah hati mengalami kemunduran dimana kemampuan untuk berkomunikasinya akan hilang dan mereka menjadi tidak peduli dengan lingkungannya.