Anak Didiagnosis Autis? Berikut 4 Tahapan Yang Akan Dilalui

Ketika mendengar anak di nyatakan mengalami autis, maka kemungkinan besar yang ada dalam benak pikiran setiap orang tua adalah hal yang buruk. Sebagai ortu bisa jadi merasa takut, sedih, dan menderita.

Semua perasaan tadi adalah hal yang wajar muncul ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang relatif baru, namun demikian kita tidak perlu sepenuhnya merasa begitu kebingungan. Diluar sana banyak komunitas atau organisasi yang siap membantu permasalahan seperti ini.

Selama proses merespon vonis buah hati yang autis, orang tua akan mengalami berbagai macam perasaan. Berikut empat tahapan yang akan dilalui saat pertama kali mendengar anak menderita autis.

Tahap 1 – Penolakan

Penolakan adalah bentuk langsung begitu mendengar dokter mengatakan bahwa putra-putri Anda adalah anak autis. Anda pun berupaya menarik diri bahwa kemungkinan besar dokter membuat analisis yang salah. Tak ada salahnya untuk mencari ‘second opinion’, dan jika hal ini tetap menghasilkan hal yang sama maka saatnya Anda melewati hal ini. Penolakan yang terus menerus tidak akan membantu Anda sekaigus buah hati yang saat ini lebih membutuhkan perhatian. Semakin cepat orang tua menerima diagnosis ini maka semakin cepat tercapai bisa diberikan.

Tahap 2 – Marah

Marah adalah pengeluaran emosi yang alami. Bentuk kemarahan ini bisa jadi terhadap diri sendiri, apa yang salah terhadap diri sehingga mengalami hal ini. marah pada Tuhan, kenapa Tuhan memberikan ujian ini. Atau marah pada orang tua lain yang memiliki anak yang sehat? Kunci untuk melewati tahap ini adalah berbicara dengan orang lain, berbagai perasaanlah dengan orang yang Anda anggap nyaman, bisa saja dokter atau sahabat atau suami.

Tahap 3 – Duka lara

Berduka adalah bentuk respon emosi terhadap berita yang sangat buruk. Pastinya jangan sampai hal ini berlarut-larut disebabkan kemungkinan besar Anda secara tidak langsung akan menularkan perasaan ini pada buah hati. Carilah konselor jika Anda tidak bisa menaggulangi hal ini.

Tahap 4 – Menerima

Menerima dengan sepenuhnya bahwa anak Anda terkena autisme memang membutuhkan waktu namun perasaan ini adalah tahap terakhir dimana nantinya kita bisa bergerak maju. Pada periode ini Anda akan tampak menjalani hidup yang sewajarnya dengan buah hati yang terkena autisme. Begitu hal ini maka kebahagian baik Anda dan anak akan segera tercapai.

Anak Didiagnosis Autis? Berikut 4 Tahapan Yang Akan DilaluiKasus autisme pada anak bisa jadi akan susah untuk di kelola terutama jika kasusnya tergolong berat. Banyak organisasi yang menawarkan bantuan mengenai hal ini, sehingga Anda tidak perlu merasa terbebani karena mengganggap Anda menghadapi seorang diri.

Jika sebagai orang tua Anda menghadapi tiga tahapan pertama diatas terlalu lama maka disarankan untuk mencari bantuan psikolog. Satu-satunya cara agar Anda dapat melanjutkan hidup demi kebaikan anak adalah menerima semua hal yang terjadi pada anak Anda.

Apakah Alergi Bisa Menyebabkan Autisme Pada Anak?

Alergi bisa menyebabkan autis pada anak? Mungkin Anda sudah pernah mendengarnya. Kabar terbaru dinyatakan bahwa ilmuwan mulai meyakini bahwa adanya koneksi yang kuat antar keduanya. Apalagi saat ini kasus alergi dan autisme semakin meningkat.

Alergi yang menginduksi autisme umumnya didapati pada anak-anak yang terkena kasus autisme regresif, atau autisme yang tidak menampakkan dirinya hingga si anak berusia dua tahun. Anak-anak yang berhubungan dengan hal ini tak sama sekali memperlihatkan gejala autisme kecuali isu mengenai pola tingkah laku dan neurologis yang berhubungan dengan sistem disgestif yang umum adalah ketidakmampuan untuk mencerna kasein dan gluten.

Dua buah protein ini memang hampir sama. Kasein di temukan pada susu dan merupakan protein utama penyusun susu. Sedangkan gluten ditemukan pada gandum dan kacang-kacangan. Disebabkan karena isu dua makanan ini terhadap spektrum kasus autisme maka orang tua disarankan untuk menghilangkan menu keduanya pada buah hati mereka untuk meminimalkan autisme.

Anak-anak yang alergi terhadap dua makanan ini tidak dapat mencerna keduanya secara normal. Alih-alih kasein serta gluten di cerna namun sayangnya keduanya masuk ke aliran darah hingga menyebabkan kandungan zat sejenis morfin tinggi. Substansi ini menghasilkan produk samping yang banyak ditemukan pada sampel urine anak-anak penderita autisme.

Berdasarkan isu ini maka dapat dinyatakan bahwa autisme pada anak memiliki kadar zat kimia tertentu yang tidak secara normal di cerna pada anak normal lainnya.

Biasanya tanda dan gejala autis pada anak akn terlihat saat anak berusia tiga tahun. Reduksi atau penghilangan makanan yang memicu alergi adalah hal yang penting untuk mendapatkan potensi terbaik anak. Oleh sebab inilah ide untuk menghilangkan kasein dan gluten pada diet anak dikembangkan. Orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anak mereka guna meminimalkan efek autisme akan mendapatkan hasil yang bagus pula terhadap buah hati.

Alergi dan autisme sepertinya sangat berhubungan erat. Seperti yang bisa kita lihat banyak makanan yang dapat menyebabkan masalah yang buruk jika dikonsumsi oleh anak autis serta bisa menyebabkan kecanduan makanan.

Jika saat ini merasa bahwa putra-putri Anda memiliki gangguan terhadap kasein dan gluten maka segeralah memeriksa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan urine. Deteksi dini terhadap hal ini bisa meminimalkan dampak kesuraman masa depan anak Anda.

Bagaimana Terapi Autisme Pada Anak Dilakukan

Saat orang tua mengetahui bahwa salah satu buah hatinya menderita autisme maka berbagai jenis terapi pun mulai direncanakan. Ada banyak terapi untuk anak autis. Beberapa orang tua bahkan khawatir terapi yang menggunakan obat-obatan bisa berpengaruh buruk pada anak mereka.

Tapi ini bukanlah hal yang semestinya dikhawatirkan, disebabkan beberapa kasus autisme pada anak membutuhkan pengobatan akan tetapi pada kasus yang lainnya tidak perlu. Terdapat pula terapi alternatif tanpa penggunaan obat.

Berikut beberapa macam terapi yang biasa dipakai untuk penderita autis pada anak.

Terapi Pengobatan

Jenis obat yang dipakai untuk penderita autis sangat beraneka ragam. Obat inipun memiliki fungsi yang bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan. Terdapat obat yang dipakai untuk mengatasi rasa cemas yang sering diderita anak autisme. Obat jenis anipsychotic dipakai untuk anak autis yang memiliki masalah tingkah laku. Beberapa obat juga dipakai untuk anak autis yang kesulitan untuk tertidur. Obat-obatan ini tidak menyembuhkan autisme dan penggunaannya harus dengan pengawasan dokter.

Terapi Okupasi

terapi okupasi akan membantu anak autis untuk bisa hidup secara mandiri. Mereka akan belajar untuk bagaimana mengenakan baju, bagaimana mandi, cara makan setiap harinya. Anak autis akan dilatih syaraf motoriknya. Terapi ini juga mengajarkan anak untuk bisa menggunakan alat-alat sederhana, diajarkan apa yang berhaya baik yang ada dirumah atau di luar rumah.

Terapi fisik

Banyak anak autis yang membutuhkan terapi fisik. Terapi fisik dibutuhkan bagi anak autis yang memiliki otot lemah. Terapis yang menangani ini juga akan bekerja untuk merangsang otot motorik si anak. Bentuk terapi ini bisa berupa jalan, berdiri, dan berguling.

Terapi Tingkah Laku

Terapi tingkah laku akan berkonsentrasi untuk mengajarkan anak autis bagaimana mereka bisa berprilaku dengan baik. Terapi ini umumnya menggunakan sistem reward. Dengan belajar bagaimana berperilaku baik maka anak autis akan mendapatkan hadiah dan hadiah dihentikan jika mereka menunjukkan perilaku yang buruk.

Terapi Bicara

Anak autis umumnya bermasalah dengan cara berkomunikasi. Mereka sulit untuk mencerna perkataan verbal. Bahkan beberapa anak autis tidak pernah ngomong sama sekali. Jadi mereka harus diajarkan bagaiman untuk berkomunikasi dengan menggunakan terapi bicara.

Terapi-terapi diatas adalah beberapa contoh dari sekian banyak terapi yang bisa dipergunakan untuk anak autis. Anak autisme tidak membutuhkan semua terapi, sesuaikan jenis terapi dengan kebutuhan yang diperlukan oleh si anak. Hal yang terpenting untuk menemukan terapi yang tepat bagi anak autis adalah menemukan terapi yang membuat anak Anda bisa berkembang dengan baik.

Gejala Awal Autisme Pada Anak

Apa gejala autisme pada anak? Pertama yang harus dilakukan adalah mengamati aktifitas buah hati. Menurut ‘National Institute of Child Health and Human Developmen’s Autism Facts’, dokter akan memberikan notifikasi bahwa putra-putri Anda menderita autis jika,

– Tidak bisa berceloteh hingga usia 12 bulan

– Tidak bisa menunjukkan sikap yang wajar ditunjukkan anak di usia pertama misalnya menunjuk, menggapai, atau melambaikan tangan hingga usianya 12 bulan

– Bayi Anda tidak bisa mengatakan satu katapun hingga usianya 16 bulan

– Tidak bisa mengatakan sesuatu, kecuali dia hanya mengulang kata yang Anda ucapkan padanya hal ini diketahui hingga usia 24 bulan

– Tidak memiliki kemampuan untuk bersosialisasi

– Tidak merespon panggilan (saat Anda memanggil namanya) hingga usia 12 bulan

Gejala diatas adalah pertanda umum untuk mengetahui autisme pada anak. Artinya kita bisa dengan mudah. Jadi jika usia bayi Anda sudah mencapai 12 bulan dan menunjukkan gejala diatas maka segeralah berkonsultasi pada dokter. Jangan khawatir tetaplah merasa nyaman jika ada buah hati yang menderita autisme.

Anak adalah berkah dari Tuhan yang wajib kita syukuri dan tetap fokus untuk bisa memberikan yang terbaik baginya agar mereka bisa mandiri dikemudian hari.

Apa gejala awal autisme pada anak?

Gejala awal anak yang mengalami autisme ditujukan untuk memberikan pengetahuan bagi orang tua agar mereka mengetahui sejak dini jikalau para ortu ini memiliki anak berkebutuhan khusus.

Yang perlu diingat disini adalah bahwa proses evaluasi ini tidaklah seburuk yang dibayangkan. Akan tetapi memiliki alasan tersendiri yang nantinya bisa bermanfaat.

Anak tidak merespond panggilan namanya

Sepertinya bayi usia dua tahun yang Anda miliki terkesan cuek pada Anda. Biasanya anak tidak akan melakukan hal ini setelah mereka dipanggil dengan penggulangan 10 kali. Anda mungkin berfikir bahwa anak sedang asik bermain dengan mainannya atau tidak memperhatikan Anda. Tapi berhati-hatilah ini adalah tanda-tanda autis.

Anak tidak bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya

Anak tidak bisa secara penuh mengkomunikasikan apa yang diinginkannya hingga mereka mencapai usia tiga tahun.

Anak tidak memiliki kemampuan berbahasa

Ini adalah gejala umum autisme. Biasanya anak enggan untuk berkata satu katapun. Kesulitan untuk mengungkapkan isi hati dengan kata-kata adalah ciri autisme.

Anak kesulitan untuk mengikuti petunjuk

Anak susah untuk diajak mengikuti petunjuk yang telah dibuat, atau mereka seolah-olah beraktifitas seenaknya sendiri.

Sewaktu-waktu anak Anda kelihatan seperti tuli

Dokter yang memiliki spesialis terhadap autisme akan dengan mudah menunjukkan gejala ini pada Anda.

Anak Anda kelihatannya berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak nyata

Gejala Awal Autisme Pada AnakWalau Anda tahu tidak ada seseorang yang menemani anak Anda kecuali Anda sendiri kelihatannya buah hati sedang menikmati berkomunikasi dengan orang lain. Dia asik fokus dengan sesuatu atau hanya cuek bermain seenaknya tanpa menghiraukan Anda. Anak-anak sebenarnya suka perhatian dan memanggil namanya adalah cara terbaik mengungkapkan hal ini.

Deteksi dini autisme pada anak akan memberikan kesempatan pada orang tua untuk bisa belajar lebih baik mengenai apa autisme itu dan dengan demikian bisa memberikan kualitas pendidikan dan pola pengasuhan terbaik bagi si anak.

Pengunjung Datang Dengan Kata Kunci :

Anak 12 bulan tidak merespon jika di panggil

Tips Mengatasi Asma pada Balita

Asma pada balita seringkali didiagnosa ketika anak berusia 5 tahun atau bisa juga kurang. Tapi, kasus yang terjadi tidak selalu seperti itu karena beberapa anak memiliki gejala yang ringan saja ketika mencapai usia remaja namun kondisinya bertambah buruk saat mereka beranjak dewasa. Lalu bagaimana tips mengatasi asma pada balita agar ketika besar nanti penderitaan mereka karena asma tidak terlalu berat.

Tips Mengatasi Asma pada BalitaMeskipun asma tidak bisa diobati tapi ada cara untuk mencegah asma kambuh dalam kondisi yang lebih berat. Berikut ini beberapa cara untuk menjauhkan anak-anak dari kemungkinan kambuhnya asma dalam level berat.

1. Jauhkan selalu anak-anak dari daerah yang penuh debu. Jaga kebersihan rumah agar selalu terbebas dari debu yang menumpuk.

2. Jika Anda wanita dan sedang hamil maka usahakan tidak merokok karena kebiasaan merokok akan meningkatkan risiko anak terkena kondisi asma. Juga jauhkan anak-anak dari keadaan atau ruangan yang berasap rokok.

3. Tips mengatasi asma pada balita lainnya adalah merawat infeksi pada paru-paru dengan baik jika balita mengalaminya dan lakukan pengecekan medis secara berkala. Infeksi paru-paru itu termasuk bronchitis dan pneumonia.

4. Periksa kondisi inhaler yang digunakan oleh anak Anda. Jika tidak efektif maka segera temui dokter untuk memperbaiki kondisi tersebut.

5. Penjernih udara dapat digunakan untuk menyegarkan dan membersihkan udara di rumah Anda. Ini artinya balita bisa bernapas lebih bersih dan mendapat udara yang baik untuk paru-paru mereka.

6. Jauhkan anak-anak dari kondisi yang memperburuk asma mereka seperti ekspresi dan emosi yang berlebihan, alergi pada debu, serbuk bunga dan makanan tertentu, kegiatan fisik yang berat seperti berlari, bersepeda atau olahraga berat lainnya. Meskipun yang tersebut tadi bisa memicu kambuhnya asma tetapi tetap memberikan manfaat untuk kesehatan paru-paru dan membuat anak lebih kuat dan sehat. Yang pasti jangan memberikan atau melakukan sesuatu secara berlebihan.

7. Jangan lupa untuk memberikan obat yang diinstruksikan oleh dokter sebelumnya. Jangan sembarangan memberikan obat pada balita yang memiliki asma.

Itulah tadi beberapa tips mengatasi asma pada balita yang bisa sedikit memberikan pencerahan pada orangtua di rumah. Semangat!

Tipe Autisme Pada Anak

Autisme pada anak acapkali memberikan beban pada orang tua. Banyak ortu yang memang tidak mengharapkan memiliki anak autis. Namun walaupun demikian buah hati adalah anugrah dari Tuhan yang harus kita sayangi. Masih banyak hal positif yang bisa dikejar serta solusi pendidikan walaupun kita memiliki anak autis.

Autisme pada anak didefinisikan sebagai suatu gangguan yang di derita anak dimana perkembangan jiwa dan mentalnya tidak bisa maksimal. Autisme pada anak dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu:

Autis Pada Masa Kanak-kanak (Childhood Autism)

Tipe Autisme Pada AnakAutisme yang menyerang anak pada masa perkembangan si anak disebut sebagai autis masa kanak-kanak atu ‘Childhood Autism’. Childhood autism bisa dikenali sejak dini saat anak berusia sekitar tiga tahunan.

Berikut ciri-ciri autis masa kanak-kanak

– Anak mengalami gangguan saat berkomunikasi, hal ini dtiunjukkan dengan kemampuan bicara yang melambat. Bahasa yang digunakan oleh anak tidak bervariasi dan umumnya diulang-ulang. Selain itu anak tidak bisa diajak komunikasi dua arah.

– Anak tidak menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi sosial. Anak yang menderita autisme masa kanak-kanak sulit sekali memperlihatkan emosinya dan ekspresi hatinya. Kesulitan ini akhirnya berdampak pada kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya.

– Perilaku Childhood autism berbeda dengan anak normal. Umumnya mereka memiliki keterbatasan untuk tertarik dengan sesuatu. Sebagai contoh saat anak

diberikan mainan mobil-mobilan maka mereka akan memainkan dengan cara yang sama. Atau jika ada sesuatu yang tidak berkenan dengan hati maka mereka biasanya akan berteriak.

Sindrom Rett

Bisa dilihat saat usia anak enam bulan, adapun ciri yang ditunjukkan adalah,

  • ukuran kepala tidak seperti bayi normal umumnya
  • sering melakukan gerakan yang tidak terkontrol
  • anak sering menyendiri
  • sering mengalami gangguan pernafasan dan otot kaku
  • bisa jadi sering mengalami kejang

Sindrom Asperger

Autisme anak yang satu ini dicirikan dengan kemampuan bicara yang baik akan tetapi sayangnya amereka tidak mampu berkomunikasi dua arah dengan baik. Anak hanya bisa mengutarakan pendapatnya tapi tidak bisa memahami pembicaraan orang lain.

Gangguan pervasif YTT 

Jenis autis anak yang satu ini lebih ringan dimana anak masih bisa berkomunikasi dengan yang lain, menunjukkan ekspresi, dan melakukan tatap muka.

Disitergrasi masa kanak-kanak

Pada perkembangan hingga usia tiga tahun anak memiliki kemajuan seperti batita normal lainnya akan tetapi kemudian buah hati mengalami kemunduran dimana kemampuan untuk berkomunikasinya akan hilang dan mereka menjadi tidak peduli dengan lingkungannya.

Apa Penyebab Autisme Pada Anak?

Pada saat dokter mengkonfirmasi bahwa anak Anda menderita autisme, maka pertnyaan yang terlintas di benak Anda mungkin seeprti ini ‘darimana anak saya mendapatkan autis?’ Apa yang menjadi penyebabnya?

Well, pertnyaan diatas tidak ada jawaban yang mutlak. Yang perlu diketahui adalah ada banyak ragam hal yang bisa menyebabkan autisme dan saat ini para ahli sedang menyelidikinya. Tapi faktanya yang perlu diketahui adalah kasus autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Pada awalnya, dipercaya bahwa autisme terjadi karena adanya trauma emosional. Disinilah pola parenting orang tua memberikan andil yang kuat. Dokter ada yang mengatakan bahwa Ibu tidak secara penuh memberikan perhatian yang khsusus pada anaknya sehingga si anak kurang kasih sayang. Kabar baiknya penyebab ini terbukti salah dan dibantah dari banyak hasil penelitian.

Penyebab umum yang sering dikemukakan saat ini adalah faktor genetik. Peneliti merasa bahwa setiap individu yang lahir pastinya akan memiliki kecenderungan untuk menjadi autis. Dikemudian hari lingkunganlah yang akan mempengaruhi apakah bawaan sifat ini akan berkembang. Para ahli mengatakan bahwa ada gen pencetus autisme akan tetapi sayangnya hingga saat ini gen tersebut masih juga belum diketemukan 🙂

Faktor lingkungan memegang peranan yang penting bagi perkembangan autis. Studi menunjukkan bahwa ada beberapa kasus autisme di suatu kota yang disebabkan oleh toksin dan zat kimia. Umumnya kota yang berdekatan dengan daerah industri akan memilki kualitas udara yang buruk yang mencetus terjadinya kasus autisme.

Apa Penyebab Autisme Pada Anak?Pro dan kontra mengenai vaksinasi pun terjadi. Dikatakan bahwa beberapa jenis vaksin bisa memicu terjadinya anak autis, dan efeknya banyak orang tua yang hingga saat ini tidak mau memberikan imunisasi lengkap pada anaknya. Studi terbaru mengenai vaksinasi menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara imunisasi lengkap dengan kasus autisme.

Penelitian terbaru yang sedang dipelajari adalah kaitan antara tereksposnya ibu yang sedang hamil dengan logam merkuri dan dampaknya bagi bayi yang akan dilahirkan, akan tetapi hasil penelitian ini belum di publikasikan.

Lebih jauh lagi kasus autisme dihubungkan dengan isu mengenai kesehatan. Dikatakan bahwa anak yang sejak kecil sudah menderita penyakit tertentu seperti Fragille X Syndrome dan Rubella memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi autis.

Ketidakseimbangan metabolisme menjadi pencetus lain dari kasus autisme. Banyak peneliti yang mengatakan bahwa ketidakseimbangan metabolisme yang terjadi pada anak bisa menyebabkan anak menjadi autis.

Guna mendapatkan kesimpulan mana yang sesungguhnya menjadi penyebab autis maka diperlukan banyak penelitian lagi. Diharapkan suatu saat nanti akan ada penjelasan secara terperinci mengenai bagaimana atau apa yang menjadi penyebab autisme pada anak.